Pergerakan IHSG Masih Dihantui Sentimen Ekonomi Global

Senin 29 April 2019 10:24 WIB

Ilustrasi IHSG by onbet789

ONBET789 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan ini diprediksi akan bergerak mixed.

Pergerakan indeks masih dipengaruhi oleh sentimen dari ekonomi global dan juga laporan kinerja keuangan beberapa emiten sepanjang kuartal I-2019 yang mulai dirilis.

Analis BNI Sekuritas Dessy melihat IHSG pada pekan ini terutama saat membuka pekan berpotensi untuk menguat. Menurutnya, ini didorong sentimen positif dari Amerika Serikat (AS) seiring rilis data produk domestik bruto (PDB) AS sebesar 3,2% per kuartal pertama tahun ini.

Hal tersebut lebih tinggi dibandingkan ekspektasi para investor dan periode sebelumnya sebesar 2,2%. “Indeks Harga Saham Gabungan pekan ini diprediksi akan mengalami penguatan dalam rentang 6.309- 6.503,” kata Dessy di Jakarta, kemarin.

Sepanjang pekan ini, dia memperkirakan pergerakan IHSG berpotensi menguat tipis seiring minimnya sentimen data ekonomi serta rilis laporan keuangan kuartal pertama 2019 yang rata-rata sudah sesuai ekspektasi investor atau di bawah ekspektasi investor.

“Selain itu, akan ada libur tengah minggu pada Rabu (1/5) yang berpotensi membuat aktivitas perdagangan saham menjadi semakin tipis,” ujarnya. Dia mengatakan, para investor masih menunggu data domestik Indonesia, yaitu tingkat inflasi per April 2019 yang akan diumumkan pada Kamis (2/5) mendatang.

Inflasi diekspektasikan akan naik tipis dibandingkan peri - ode sebelumnya yang tumbuh 0,1% (mount on mount/MoM) atau 2,5% year on year (yoy). Sementara itu, Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus lebih melihat potensi penurunan IHSG selama sepekan.

Menurutnya banyak sentimen penyebab pelemahan IHSG pada pekan ini. Salah satunya ke - khawatiran para pelaku pasar dan investor terhadap laporan keuangan emiten di China yang saat ini menunjukkan data kurang baik.

Hal tersebut juga merupakan salah satu dampak akibat dari perang dagang antara Amerika dan China. “Pergerakan IHSG sepertinya akan berada di 6.375-6.435 dengan potensi pergerakan mixed,” ujarnya.

Selain kekhawatiran global tersebut, stabilitas politik dalam negeri juga sedang diuji. Wajar hal ini membuat para pelaku pasar dan investor sedikit mulai waswas menyambut keputusan 22 Mei 2019 nanti.

Rasa khawatir juga didukung oleh turunnya bursa Asia serta stabilitas politik yang terganggu, hal ini menyebabkan IHSG menjadi tertekan. “Drama politik nasional semakin mirip film. menurut berita harian

Padahal pengalaman pemilu dari 2004 hingga 2014 justru menunjukkan IHSG mengalami kenaikan tinggi sejak pemilu. Namun, baru pemilu ini saja yang menunjukkan instabilitas sehingga menyebabkan rasa khawatir,” kata Maximilianus.

Namun menurutnya, IHSG harus dijaga di rentang batas bawah 6.335 ka - rena apabila melewatinya, maka IHSG akan berpotensi kembali ke 6.260. Dengan begitu, ada potensi rebound di sana, tapi rasa khawatir muncul karena laporan perusahaan emiten besar di Chi na akan mengeluarkan laporan keuangannya pada 30 April nanti.

“Kinerjanya yang baik atau tidak akan menjadi sentimen lanjutan bagi IHSG nanti,” katanya. Terpisah, analis OCBC Sekuritas Liga Maradona juga sependapat IHSG pekan ini akan bergerak melemah.

Menurutnya, investor cenderung menunggu hasil pertemuan The Fed pekan ini dan rata-rata hasil laporan keuangan emiten blue chip pada kuartal pertama masih di bawah ekspektasi pasar. 

“Proyeksi IHSG sepekan kami berada dikisaran 6.340-6.460,” ujar Maradona.

Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula memiliki proyeksi makro ekonomi.

Menurutnya, secara historis pada kuartal kedua nilai tukar rupiah cenderung melemah dipengaruhi faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan meningkatnya impor jelang Lebaran.

“Namun, selama defisit neraca berjalan bisa dijaga, perkirakan sentimen terhadap nilai tukar rupiah tidak akan terlalu buruk,” ujar Ezra, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, salah satu faktor yang bisa mengimbangi defisit pada neraca berjalan adalah arus dana masuk pada pasar finansial.

Karena itu, diharapkan perbaikan sentimen pada emerging market dan peluang pemangkasan suku bunga dapat mendorong arus dana masuk ke pasar finansial Indonesia yang pada akhirnya bisa membantu menurunkan defisit pada neraca berjalan. klik disini

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button